22 Ribu Lebih Peserta BPJS PBI di Sleman Sempat Nonaktif, Pasien Gagal Ginjal Cemas Pengobatan Terganggu

Home blog 22 Ribu Lebih Peserta BPJS PBI di Sleman Sempat Nonaktif, Pasien Gagal Ginjal Cemas Pengobatan Terganggu
22 Ribu Lebih Peserta BPJS PBI di Sleman Sempat Nonaktif, Pasien Gagal Ginjal Cemas Pengobatan Terganggu
22 Ribu Lebih Peserta BPJS PBI di Sleman Sempat Nonaktif, Pasien Gagal Ginjal Cemas Pengobatan Terganggu

Sebanyak 22.866 peserta BPJS Kesehatan penerima bantuan iuran (PBI) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sempat mengalami status nonaktif. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal yang membutuhkan pengobatan rutin.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, mengatakan bahwa data peserta nonaktif ini terungkap saat proses pemutakhiran data. Ia menjelaskan bahwa status nonaktif tersebut terjadi karena berbagai faktor, seperti data ganda, peserta yang sudah meninggal, atau peserta yang sudah tidak lagi memenuhi syarat sebagai penerima bantuan iuran.

Namun, Cahya memastikan bahwa peserta yang masih memenuhi kriteria akan segera diaktifkan kembali. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan untuk mempercepat proses aktivasi.

Salah satu pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah rutin, Sari (bukan nama sebenarnya), mengaku khawatir dengan kondisi ini. Ia takut pengobatannya terhambat jika status BPJS PBI-nya tidak segera diaktifkan.

“Saya sangat bergantung pada BPJS untuk biaya cuci darah. Jika statusnya nonaktif, saya tidak tahu harus bagaimana,” ujar Sari.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sleman, Agus Supriyanto, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya mengaktifkan kembali peserta yang terdampak. Ia mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa status kepesertaan secara berkala melalui aplikasi Mobile JKN atau menghubungi kantor BPJS terdekat.

Agus juga menambahkan bahwa peserta yang statusnya nonaktif karena faktor data ganda atau kesalahan administrasi dapat segera melapor untuk dilakukan perbaikan data. Dengan demikian, mereka bisa kembali mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan.