
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus menggencarkan program deteksi dini hepatitis B yang menyasar ibu hamil. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk menekan angka penularan virus hepatitis B dari ibu ke bayi yang dikandungnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr. Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa skrining atau pemeriksaan awal pada ibu hamil sangat penting. “Dengan deteksi dini, kita bisa segera memberikan penanganan yang tepat agar bayi yang lahir terhindar dari risiko tertular hepatitis B,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Samarinda, Kamis.
Program ini dilaksanakan di seluruh puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kaltim. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan hepatitis B pada trimester pertama kehamilan. Jika hasil tes menunjukkan positif, maka akan diberikan terapi antivirus serta vaksinasi pada bayi segera setelah lahir.
Data Dinas Kesehatan Kaltim mencatat, pada tahun 2023 saja, ada lebih dari 1.000 ibu hamil yang terdeteksi positif hepatitis B. Angka ini menunjukkan pentingnya skrining secara menyeluruh agar penularan vertikal dapat dicegah semaksimal mungkin.
Selain skrining, Pemprov Kaltim juga menggalakkan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya hepatitis B dan cara penularannya. Masyarakat diimbau untuk melakukan vaksinasi hepatitis B, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Dengan adanya program deteksi dini ini, diharapkan angka kejadian hepatitis B pada bayi baru lahir di Kaltim dapat menurun drastis. Hal ini sejalan dengan target pemerintah pusat untuk eliminasi hepatitis B pada tahun 2030.