
Paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi penderita penyakit pernapasan. Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Dirgahayu, Samarinda, menyoroti peningkatan frekuensi kekambuhan pada pasien asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) selama musim karhutla.
Mekanisme Dampak Asap Karhutla pada Saluran Napas
Menurut sang dokter, partikel halus dan zat kimia berbahaya dalam asap karhutla dapat memicu peradangan akut pada saluran napas. Pada penderita asma, kondisi ini menyebabkan bronkospasme atau penyempitan saluran napas yang mendadak. Sementara itu, pada pasien PPOK, paparan tersebut memperburuk kerusakan jaringan paru dan meningkatkan produksi lendir, sehingga sesak napas menjadi lebih sering terjadi.
Data Kunjungan Pasien Meningkat
Data dari poliklinik paru RS Dirgahayu menunjukkan lonjakan jumlah pasien yang datang dengan keluhan sesak napas dan batuk selama periode karhutla. Banyak di antara mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit paru sebelumnya. Dokter mengingatkan bahwa paparan berulang terhadap polusi asap dapat mempercepat penurunan fungsi paru secara permanen.
Langkah Pencegahan yang Disarankan
- Gunakan masker N95 atau masker setara saat berada di luar ruangan.
- Kurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kualitas udara buruk.
- Pasang alat pemurni udara (air purifier) di dalam rumah.
- Pastikan obat-obatan rutin, seperti inhaler, selalu tersedia dan digunakan sesuai anjuran dokter.
- Segera konsultasi ke dokter jika gejala memburuk, misalnya batuk tak kunjung reda atau napas terasa berat.
Dokter juga mengimbau pemerintah untuk terus memantau kualitas udara dan menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses bagi warga terdampak. Dengan langkah antisipasi yang tepat, risiko kambuh asma dan PPOK akibat karhutla dapat diminimalkan.