Waspada! Tren Protein Tinggi pada Anak Bisa Sebabkan Masalah Ginjal, Peringatan dari Prof. Aman Bhakti Pulungan

Home blog Waspada! Tren Protein Tinggi pada Anak Bisa Sebabkan Masalah Ginjal, Peringatan dari Prof. Aman Bhakti Pulungan
Waspada! Tren Protein Tinggi pada Anak Bisa Sebabkan Masalah Ginjal, Peringatan dari Prof. Aman Bhakti Pulungan
Waspada! Tren Protein Tinggi pada Anak Bisa Sebabkan Masalah Ginjal, Peringatan dari Prof. Aman Bhakti Pulungan

Belakangan ini, tren mengonsumsi makanan tinggi protein pada anak-anak semakin populer. Banyak orang tua yang meyakini bahwa asupan protein yang berlimpah dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan si kecil secara optimal. Namun, di balik anggapan tersebut, terdapat risiko serius yang perlu diwaspadai.

Peringatan dari Pakar Kesehatan Anak

Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), seorang ahli endokrinologi anak, memberikan peringatan keras terkait bahaya tren ini. Menurut beliau, pemberian protein secara berlebihan pada anak-anak justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, terutama pada organ ginjal.

Ginjal anak yang masih dalam tahap perkembangan belum mampu memproses kelebihan protein secara efisien. Beban kerja yang terlalu berat pada ginjal dapat memicu gangguan fungsi ginjal, bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan permanen di kemudian hari.

Mengapa Terlalu Banyak Protein Berbahaya?

  • Ginjal anak belum matang sempurna untuk menyaring sisa metabolisme protein dalam jumlah besar.
  • Kelebihan protein meningkatkan risiko dehidrasi karena tubuh membutuhkan lebih banyak cairan untuk membuang produk sampingan.
  • Asupan protein yang tidak seimbang dengan nutrisi lain dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan sistem kekebalan tubuh.

Rekomendasi Asupan Protein yang Tepat

Prof. Aman menekankan pentingnya pola makan seimbang untuk anak. Kebutuhan protein harian anak sebenarnya tidaklah setinggi yang dibayangkan. Untuk anak usia 1–3 tahun, misalnya, cukup sekitar 13–15 gram protein per hari. Sumber protein bisa didapat dari telur, daging tanpa lemak, ikan, tahu, atau tempe dalam porsi wajar.

Orang tua disarankan tidak mudah tergiur dengan tren diet tinggi protein yang viral di media sosial. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi anak sebelum mengubah pola makan si kecil secara drastis. Kesehatan jangka panjang anak jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti tren sesaat.