
Pernahkah Anda merasakan leher terasa kaku atau nyeri di satu sisi? Banyak orang langsung menganggapnya sebagai ‘salah bantal’ dan mengabaikannya. Namun, tahukah Anda bahwa kondisi ini bisa menjadi gejala awal dari diseksi arteri, sebuah kondisi serius yang berpotensi menyebabkan stroke?
Apa Itu Diseksi Arteri?
Diseksi arteri adalah kondisi ketika terjadi robekan pada lapisan dinding pembuluh darah arteri. Robekan ini menyebabkan darah masuk ke dalam dinding arteri dan membentuk gumpalan (hematom) yang dapat menyumbat aliran darah ke otak. Akibatnya, suplai oksigen dan nutrisi ke otak terganggu, sehingga memicu stroke.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala diseksi arteri seringkali mirip dengan sakit leher biasa, sehingga sering terlewatkan. Beberapa tanda yang perlu Anda perhatikan antara lain:
- Nyeri leher yang tajam atau berdenyut, terutama di satu sisi
- Sakit kepala yang hebat dan tiba-tiba, seringkali di area belakang kepala atau di atas mata
- Penglihatan kabur atau ganda
- Wajah terasa mati rasa atau lemah di satu sisi
- Kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan
- Pusing atau kehilangan keseimbangan
Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu atau menganggapnya sepele karena penanganan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan otak permanen.
Penyebab dan Faktor Risiko
Diseksi arteri dapat terjadi secara spontan atau akibat trauma ringan pada leher. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:
- Gerakan leher yang tiba-tiba atau ekstrem, misalnya saat olahraga, kecelakaan, atau manipulasi kiropraktik
- Kondisi medis tertentu seperti tekanan darah tinggi, penyakit jaringan ikat, atau peradangan pembuluh darah
- Kebiasaan merokok dan penggunaan obat-obatan tertentu
Meskipun tergolong jarang, diseksi arteri merupakan penyebab stroke yang signifikan pada orang dewasa muda dan setengah baya. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak dini.
Jangan pernah menganggap remeh leher kaku atau nyeri yang tidak kunjung membaik. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati.