
Remaja yang tengah menjalani pengobatan leukemia perlu mewaspadai ancaman sindrom metabolik dan resistensi insulin. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan jangka panjang pada pasien muda.
Sindrom metabolik merupakan sekumpulan gangguan yang muncul bersamaan, seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah berlebih, lemak tubuh berlebih di area perut, serta kadar kolesterol yang tidak normal. Sementara itu, resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons hormon insulin dengan baik, sehingga gula darah sulit dikendalikan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa remaja penyintas leukemia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kedua gangguan tersebut. Hal ini berkaitan dengan efek samping dari terapi kanker, terutama penggunaan obat-obatan kemoterapi dan radiasi.
Paparan jangka panjang terhadap agen kemoterapi tertentu dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memicu perubahan hormonal. Akibatnya, pasien remaja lebih rentan terhadap penumpukan lemak visceral dan resistensi insulin. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
Para ahli menyarankan agar pemantauan kesehatan metabolik dilakukan secara rutin pada remaja yang telah menyelesaikan pengobatan leukemia. Pemeriksaan seperti kadar gula darah puasa, profil lipid, dan lingkar perut perlu dijadwalkan secara berkala. Selain itu, intervensi gaya hidup seperti pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur sangat dianjurkan untuk menekan risiko tersebut.
Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, diharapkan kualitas hidup para remaja penyintas leukemia dapat tetap terjaga dan risiko komplikasi metabolik dapat diminimalkan.