
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan pernyataan mengejutkan mengenai risiko kesehatan dari bahan bangunan seperti asbes dan seng. Ia mengklaim bahwa kedua material tersebut dapat memicu kanker. Pernyataan ini tentu saja menarik perhatian publik dan memunculkan pertanyaan: seberapa akurat klaim tersebut?
Fakta di Balik Pernyataan Prabowo
Asbes memang sudah lama dikenal sebagai bahan karsinogenik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai lembaga kesehatan internasional telah mengklasifikasikan serat asbes sebagai penyebab kanker paru-paru, mesothelioma, dan kanker lainnya. Di Indonesia, penggunaan asbes sudah mulai dibatasi, namun masih banyak ditemukan di bangunan-bangunan tua.
Sementara itu, seng (zinc) dalam bentuk biasa sebenarnya tidak bersifat karsinogenik. Seng adalah mineral penting yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil. Namun, paparan debu seng dalam konsentrasi tinggi di tempat kerja dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan masalah kesehatan lainnya, meskipun tidak langsung menyebabkan kanker.
Apa Kata Penelitian?
- Asbes: Terbukti secara ilmiah sebagai karsinogen Grup 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).
- Seng: Tidak diklasifikasikan sebagai karsinogen oleh IARC. Paparan berlebihan dapat menyebabkan keracunan seng, tetapi bukan kanker.
Pernyataan Prabowo yang menyebut seng sebagai pemicu kanker perlu diluruskan. Mungkin yang ia maksud adalah jenis bahan bangunan tertentu yang mengandung campuran bahan berbahaya, atau mungkin ada kesalahan informasi. Yang jelas, masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar tentang risiko masing-masing material.
Untuk menghindari risiko kanker, para ahli menyarankan untuk menghindari penggunaan asbes dan menggantinya dengan bahan alternatif yang lebih aman seperti fiber semen atau bahan isolasi modern. Sedangkan untuk seng, penggunaannya dalam konstruksi masih dianggap aman selama tidak terpapar debu dalam jumlah besar dalam jangka waktu panjang.
Kesimpulannya, pernyataan Prabowo tentang asbes memang didukung bukti ilmiah. Namun, klaim tentang seng perlu dikaji ulang karena tidak sepenuhnya akurat. Masyarakat diimbau untuk selalu mencari informasi dari sumber terpercaya dan konsultasi dengan ahli kesehatan jika memiliki kekhawatiran.