Perajin Lampion Merah Putih di Malang Kewalahan: Pesanan Membludak, Bahan Baku Meroket 20%

Home blog Perajin Lampion Merah Putih di Malang Kewalahan: Pesanan Membludak, Bahan Baku Meroket 20%
Perajin Lampion Merah Putih di Malang Kewalahan: Pesanan Membludak, Bahan Baku Meroket 20%
Perajin Lampion Merah Putih di Malang Kewalahan: Pesanan Membludak, Bahan Baku Meroket 20%

Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, para perajin lampion di Kota Malang justru dihadapkan pada situasi yang paradoks. Di satu sisi, permintaan akan lampion merah putih melonjak drastis. Namun di sisi lain, mereka dipusingkan oleh kenaikan harga bahan baku yang mencapai 20 persen.

Kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh para pengrajin, terutama untuk bahan-bahan utama seperti kertas, bambu, dan cat. Akibatnya, margin keuntungan mereka semakin tipis, bahkan ada yang terpaksa menaikkan harga jual produk meski tak sebanding dengan lonjakan biaya produksi.

Pesanan Melonjak, Tapi Keuntungan Tergerus

Seorang perajin lampion di kawasan Malang, mengaku kebingungan menghadapi situasi ini. Pesanan yang masuk terus bertambah setiap hari, namun keuntungan yang didapat justru menurun. “Biasanya menjelang 17 Agustus, pesanan bisa naik dua kali lipat. Tahun ini, kenaikannya lebih tinggi, mungkin tiga kali lipat. Tapi masalahnya, harga bahan baku juga ikut naik,” ujarnya.

Para perajin biasanya memulai produksi lampion sejak awal Juli untuk memenuhi permintaan yang memuncak pada pertengahan Agustus. Namun, dengan kenaikan harga bahan baku yang terjadi secara mendadak, mereka harus memutar otak agar tetap bisa memenuhi pesanan tanpa merugi.

Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Harga

Untuk menyiasati hal ini, beberapa perajin melakukan efisiensi produksi, seperti mengurangi ukuran lampion atau mengganti beberapa bahan dengan alternatif yang lebih murah. Namun, langkah ini tidak selalu bisa dilakukan karena pelanggan biasanya sudah memesan dengan spesifikasi tertentu.

“Kami lebih memilih untuk menaikkan harga sedikit, asalkan kualitas tetap terjaga. Tapi kami juga paham, pelanggan kami mayoritas adalah pedagang kecil yang juga terkena dampak kenaikan harga,” tambah perajin lainnya.

Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, semangat para perajin untuk memproduksi lampion merah putih tidak surut. Mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan Indonesia.