Pakar UGM Soroti Tingginya Kasus Kanker Payudara di Indonesia: Faktor Resiko dan Pencegahan

Home blog Pakar UGM Soroti Tingginya Kasus Kanker Payudara di Indonesia: Faktor Resiko dan Pencegahan
Pakar UGM Soroti Tingginya Kasus Kanker Payudara di Indonesia: Faktor Resiko dan Pencegahan
Pakar UGM Soroti Tingginya Kasus Kanker Payudara di Indonesia: Faktor Resiko dan Pencegahan

Kanker payudara masih menjadi momok menakutkan bagi perempuan Indonesia. Berdasarkan data terbaru, penyakit ini tercatat sebagai jenis kanker dengan angka kematian tertinggi di tanah air. Menyikapi hal tersebut, para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan perhatian serius dan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini.

Menurut keterangan pakar onkologi UGM, peningkatan kasus kanker payudara di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari gaya hidup, faktor genetik, hingga keterlambatan dalam melakukan pemeriksaan. Sayangnya, masih banyak perempuan yang enggan memeriksakan payudaranya secara rutin karena berbagai alasan, seperti rasa takut atau kurangnya informasi.

“Deteksi dini sangat krusial. Semakin awal kanker ditemukan, semakin besar peluang kesembuhan pasien,” ujar seorang dosen tetap di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. Ia juga menekankan bahwa kesadaran akan pentingnya pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) harus ditanamkan sejak dini pada remaja putri.

Faktor Risiko Utama Kanker Payudara

  • Riwayat keluarga dengan penyakit serupa
  • Paparan radiasi berlebih
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi alkohol dan merokok
  • Obesitas dan kurang aktivitas fisik
  • Terapi hormon jangka panjang tanpa pengawasan medis

Para ahli juga mengingatkan bahwa kanker payudara tidak hanya menyerang wanita. Meskipun jarang, pria juga bisa mengalaminya. Oleh karena itu, edukasi tentang gejala awal sangat penting untuk disebarluaskan.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain benjolan baru di payudara atau ketiak, perubahan bentuk atau ukuran payudara, kulit payudara yang mengerut seperti kulit jeruk, hingga adanya cairan abnormal dari puting. Apabila menemukan tanda-tanda tersebut, segera konsultasi ke dokter.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan terus menggencarkan program skrining dan edukasi massal tentang kanker payudara. “Kita ingin masyarakat tidak lagi takut untuk memeriksakan diri. Ketakutan justru akan memperburuk keadaan,” pungkas pakar UGM tersebut.