
Sebuah kisah menyayat hati datang dari seorang anak sekolah dasar yang tengah berjuang melawan penyakit leukimia. Bocah bernama Sarman itu memiliki cerita pilu yang tak bisa ia nikmati program makanan bergizi gratis (MBG) di sekolahnya.
Kondisi Kesehatan yang Menghalangi
Program MBG sejatinya disediakan untuk memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi para siswa. Namun bagi Sarman, program ini tidak bisa dinikmati karena kondisi kesehatannya yang lemah akibat kanker darah (leukimia).
Leukimia membuat sistem imun Sarman sangat rentan. Ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan menjalani pola makan khusus yang ketat. Makanan yang diberikan dalam program MBG tidak sesuai dengan diet yang dianjurkan oleh dokter untuk penderita leukimia.
Perjuangan Keluarga
Keluarga Sarman, terutama sang ibu, merasa sangat sedih karena anaknya tidak bisa merasakan kegembiraan seperti teman-temannya yang lain. “Dia selalu bertanya mengapa tidak bisa ikut makan bersama. Hati saya hancur,” ujar sang ibu.
- Sarman harus menjalani kemoterapi secara rutin
- Kondisi fisiknya menurun drastis
- Ia tidak bisa mengonsumsi sembarang makanan
Harapan dan Dukungan
Meskipun dalam kondisi sulit, keluarga Sarman tetap berharap ada perhatian khusus dari pihak sekolah maupun pemerintah. Mereka berharap program MBG bisa diadaptasi untuk anak-anak dengan kebutuhan medis khusus.
Kisah Sarman ini menjadi pengingat bahwa program sosial yang baik sekalipun perlu memperhatikan kondisi khusus penerima manfaat. Anak-anak dengan penyakit kronis seperti leukimia membutuhkan pendekatan yang berbeda dan lebih personal dalam pemenuhan gizi mereka.
Semoga ke depannya, program serupa bisa lebih fleksibel dan inklusif bagi semua anak tanpa terkecuali.