
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan serius terkait dampak buruk asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat. Menurut Kemenkes, senyawa beracun yang terkandung dalam asap karhutla dapat meningkatkan risiko terkena stroke.
Asap karhutla mengandung berbagai partikel halus dan zat kimia berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Partikel-partikel ini dapat masuk ke dalam aliran darah melalui paru-paru dan memicu peradangan di seluruh tubuh, termasuk pembuluh darah. Peradangan kronis inilah yang diduga menjadi pemicu utama meningkatnya risiko stroke.
Stroke sendiri merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika suplai darah ke otak terputus, baik karena penyumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Paparan jangka panjang terhadap asap karhutla dapat mempercepat proses penyumbatan pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah, dua faktor utama penyebab stroke.
Kemenkes mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan karhutla untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, khususnya masker N95 yang mampu menyaring partikel halus. Selain itu, disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara buruk, menutup rapat jendela dan pintu rumah, serta menggunakan alat pembersih udara di dalam ruangan.
Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, stroke, atau gangguan pernapasan, Kemenkes menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau pusing yang berkepanjangan. Langkah pencegahan dini diyakini dapat menekan angka kesakitan dan kematian akibat dampak asap karhutla.