
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan sebuah alat inovatif yang mampu mendeteksi penyakit diabetes hanya dengan menganalisis napas yang diembuskan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi solusi skrining yang lebih praktis dan tidak invasif bagi masyarakat.
Alat ini bekerja dengan cara mendeteksi senyawa tertentu di dalam udara napas yang berkaitan erat dengan kadar gula darah. Berbeda dengan metode konvensional yang membutuhkan pengambilan sampel darah, alat ini hanya memerlukan embusan napas pasien. Hasil analisis kemudian dapat keluar dalam waktu singkat, sehingga mempercepat proses deteksi dini.
Para pengembang menjelaskan bahwa ide ini muncul dari kebutuhan akan metode deteksi yang lebih nyaman dan terjangkau, terutama untuk mereka yang takut dengan jarum suntik atau memiliki akses terbatas ke laboratorium. Alat ini juga dirancang portabel sehingga mudah dibawa dan digunakan di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk di daerah terpencil.
Penelitian dan pengembangan alat ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu di UGM, mulai dari teknik, kedokteran, hingga farmasi. Ke depannya, tim berencana untuk melakukan uji coba klinis secara lebih luas guna memastikan akurasi dan keandalan alat sebelum diproduksi massal. Jika berhasil, inovasi ini berpotensi mengubah cara deteksi diabetes secara global.