
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan serius terkait dampak buruk asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap tumbuh kembang anak. Menurut IDAI, anak-anak yang terpapar asap karhutla secara terus-menerus memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan.
Paparan asap mengandung berbagai partikel berbahaya yang dapat mengganggu sistem pernapasan dan penyerapan nutrisi pada anak. Kondisi ini, jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat menghambat proses pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.
Mekanisme Paparan Asap dan Stunting
Asap karhutla mengandung zat-zat toksik seperti karbon monoksida, partikel halus (PM2.5), dan senyawa kimia lainnya. Ketika terhirup, zat-zat ini dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru. Gangguan pernapasan kronis ini kemudian berdampak pada penurunan nafsu makan dan gangguan penyerapan nutrisi, yang pada akhirnya memicu stunting.
Selain itu, asap juga dapat memicu stres oksidatif dalam tubuh anak, yang mengganggu produksi hormon pertumbuhan. Anak-anak yang tinggal di daerah rawan karhutla perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mencegah dampak jangka panjang ini.
Langkah Pencegahan yang Disarankan IDAI
- Menggunakan masker khusus anak saat berada di luar ruangan.
- Memastikan ventilasi rumah tetap baik dan menggunakan pembersih udara jika memungkinkan.
- Memberikan asupan nutrisi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Memantau pertumbuhan anak secara rutin melalui posyandu atau fasilitas kesehatan.
- Segera berkonsultasi dengan dokter jika anak mengalami gejala gangguan pernapasan.
IDAI juga mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mengendalikan karhutla serta meningkatkan kesadaran akan risiko kesehatan pada anak. Dengan langkah preventif yang tepat, risiko stunting akibat paparan asap dapat ditekan seminimal mungkin.