Bappeda Buka Suara: Alasan Pemprov Babel Meminjam Rp293 Miliar dari BSB untuk RS Jantung dan Stroke

Home blog Bappeda Buka Suara: Alasan Pemprov Babel Meminjam Rp293 Miliar dari BSB untuk RS Jantung dan Stroke
Bappeda Buka Suara: Alasan Pemprov Babel Meminjam Rp293 Miliar dari BSB untuk RS Jantung dan Stroke
Bappeda Buka Suara: Alasan Pemprov Babel Meminjam Rp293 Miliar dari BSB untuk RS Jantung dan Stroke

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akhirnya angkat bicara terkait keputusan pemerintah daerah meminjam dana sebesar Rp293 miliar dari Bank Sumsel Babel (BSB). Pinjaman tersebut dialokasikan khusus untuk pembangunan Rumah Sakit Jantung dan Stroke yang dinilai sangat mendesak.

Kebutuhan Mendesak Akan Fasilitas Kesehatan Spesialis

Kepala Bappeda Provinsi Babel, Edy Suryadi, menjelaskan bahwa keputusan meminjam dana dari BSB merupakan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan spesialis jantung dan stroke. Saat ini, pasien dengan penyakit tersebut harus dirujuk ke luar daerah, seperti Palembang atau Jakarta, yang memakan biaya tinggi dan waktu tempuh lama.

“Pembangunan RS Jantung dan Stroke ini adalah prioritas. Kami tidak bisa menunda lagi karena angka penderita penyakit jantung dan stroke di Babel terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Edy dalam konferensi pers, Selasa (14/11/2023).

Proses Pinjaman yang Transparan

Edy menegaskan bahwa proses pinjaman Rp293 miliar telah melalui kajian mendalam dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan untuk memastikan kelayakan pinjaman tersebut.

“Pinjaman ini bukan tanpa pertimbangan. Kami sudah menghitung kemampuan fiskal daerah dan proyeksi pendapatan. Hasilnya, pemprov mampu membayar cicilan pokok dan bunga tanpa mengganggu belanja rutin,” imbuhnya.

Manfaat Jangka Panjang bagi Masyarakat

Selain mengurangi biaya rujukan, keberadaan RS Jantung dan Stroke juga akan membuka lapangan kerja baru bagi tenaga medis lokal. Rumah sakit ini direncanakan memiliki fasilitas lengkap, termasuk ruang operasi, ICU, dan unit rehabilitasi.

“Kami targetkan pembangunan selesai dalam dua tahun. Setelah beroperasi, masyarakat Babel tidak perlu lagi keluar daerah untuk berobat jantung dan stroke. Ini akan menghemat waktu, biaya, dan tenaga,” kata Edy.

Pemerintah provinsi juga berencana menggandeng rumah sakit besar di Jakarta untuk kerja sama pengelolaan, sehingga kualitas pelayanan setara dengan standar nasional.

Kritik dan Dukungan dari Berbagai Pihak

Keputusan meminjam dana ke BSB menuai pro dan kontra. Sebagian anggota DPRD Babel mempertanyakan besaran bunga pinjaman dan dampaknya terhadap APBD. Namun, Edy meyakinkan bahwa bunga yang ditawarkan BSB lebih rendah dibandingkan bank lain, sehingga lebih menguntungkan daerah.

“Kami terbuka untuk diaudit. Semua dokumen perjanjian pinjaman sudah diserahkan ke BPK dan BPKP. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya.

Di sisi lain, sejumlah organisasi masyarakat sipil mendukung langkah ini karena dinilai tepat sasaran. Mereka berharap RS Jantung dan Stroke segera terwujud agar angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler di Babel bisa ditekan.

Kesimpulan

Pinjaman Rp293 miliar dari BSB untuk pembangunan RS Jantung dan Stroke di Bangka Belitung merupakan keputusan yang diambil berdasarkan kebutuhan mendesak dan analisis keuangan yang matang. Meskipun menuai kritik, pemerintah provinsi optimistis fasilitas ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat dalam jangka panjang.