
Musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi momok bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang menderita asma. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti peningkatan signifikan kasus asma pada anak yang dirawat di RSUD Ulin, Banjarmasin, akibat paparan asap karhutla.
Menurut data terbaru, jumlah pasien anak dengan gangguan pernapasan, khususnya asma, melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini sejalan dengan meluasnya titik api di berbagai wilayah Kalimantan Selatan yang menghasilkan asap tebal.
Dampak Asap Karhutla pada Anak
Asap karhutla mengandung partikel halus (PM2.5) dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu iritasi saluran pernapasan. Pada anak-anak, sistem pernapasan yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap efek buruk asap. Gejala yang sering muncul antara lain batuk, sesak napas, dan mengi (suara napas berbunyi).
IDAI mengimbau orang tua untuk lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan, seperti:
- Mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara buruk.
- Menggunakan masker khusus anak yang dapat menyaring partikel halus.
- Memastikan anak minum cukup air putih untuk menjaga kelembapan saluran napas.
- Menyediakan obat asma sesuai resep dokter dan segera berkonsultasi jika gejala memburuk.
Lonjakan Kasus di RSUD Ulin
RSUD Ulin mencatat peningkatan kunjungan pasien anak dengan keluhan asma hingga 30% dalam sebulan terakhir. Dokter spesialis anak di rumah sakit tersebut mengonfirmasi bahwa sebagian besar kasus berkaitan langsung dengan paparan asap karhutla. Pihak rumah sakit telah menyiapkan ruang isolasi khusus dan alat bantu napas untuk menangani pasien dengan gejala berat.
IDAI berharap pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk mengatasi karhutla dan melindungi kelompok rentan, terutama anak-anak. Edukasi mengenai bahaya asap dan cara melindungi diri perlu terus disosialisasikan.