
Sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah terhadap ancaman HIV/AIDS. Dalam pernyataannya, ia menyoroti bahwa kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) merupakan salah satu populasi kunci yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit ini.
Menurut sang sosiolog, kelompok LSL memiliki risiko tinggi tertular HIV/AIDS karena berbagai faktor, termasuk perilaku seksual berisiko dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang ramah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih inklusif dan non-diskriminatif untuk menjangkau populasi ini.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi yang masif mengenai HIV/AIDS, tidak hanya kepada kelompok LSL, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan pemahaman yang benar, stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS dapat diminimalisir, sehingga upaya pencegahan dan pengobatan dapat berjalan lebih efektif.
Data terbaru menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Pemerintah dan berbagai organisasi non-pemerintah terus berupaya menekan angka penularan melalui program-program pencegahan, pengobatan, dan dukungan bagi para penderita. Namun, partisipasi aktif dari masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai target eliminasi HIV/AIDS pada tahun 2030.