Dinkes Kaltim Peringatkan Bahaya Hepatitis B Akut dan Kronis

Home blog Dinkes Kaltim Peringatkan Bahaya Hepatitis B Akut dan Kronis
Dinkes Kaltim Peringatkan Bahaya Hepatitis B Akut dan Kronis
Dinkes Kaltim Peringatkan Bahaya Hepatitis B Akut dan Kronis

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat terkait risiko penyakit hepatitis B, baik yang bersifat akut maupun kronis. Peringatan ini disampaikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat menyerang organ hati ini.

Penyakit hepatitis B merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Penyakit ini dapat berlangsung dalam dua bentuk utama: akut yang berlangsung singkat dan kronis yang menetap dalam waktu lama. Hepatitis B akut seringkali tidak menimbulkan gejala yang jelas, tetapi dapat berubah menjadi kronis pada sebagian penderita, terutama pada bayi dan anak-anak.

Hepatitis B kronis dapat berlanjut menjadi komplikasi serius seperti sirosis hati atau kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini sangat penting. Dinkes Kaltim mendorong masyarakat untuk melakukan vaksinasi hepatitis B sebagai langkah perlindungan utama. Vaksin ini telah menjadi bagian dari program imunisasi nasional untuk bayi, namun juga direkomendasikan untuk orang dewasa yang berisiko tinggi.

Penularan virus hepatitis B terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah yang tidak aman, dari ibu ke bayi saat proses persalinan, atau melalui alat medis yang tidak steril. Dinkes Kaltim mengingatkan pentingnya praktik hidup bersih dan bersih, terutama bagi mereka yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, pengguna narkoba suntik, atau pasangan seksual yang sering berganti.

Gejala hepatitis B akut dapat muncul dalam 1-4 bulan setelah terinfeksi. Gejala umum yaitu kelelahan, demam, mual, penurunan nafsu makan, nyeri sendi, dan kulit atau mata menguning (ikterus). Namun, banyak penderita tidak merasakan gejala, sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka terinfeksi. Oleh karena itu, tes darah khusus diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Untuk hepatitis B kronis, pengobatan dapat membantu mengendalikan virus dan mencegah kerusakan hati lebih lanjut. Obat-obatan yang digunakan termasuk antivirus seperti tenofovir atau entecavir. Dinkes Kaltim menekankan bahwa pengobatan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis.

Dinkes Kaltim berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin di puskesmas dan rumah sakit di seluruh Kalimantan Timur. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu berkonsultasi jika mencurigai adanya risiko infeksi hepatitis B.