
Klaim bahwa penggunaan rokok elektrik atau vape bebas risiko terkena diabetes mendapat sorotan tajam dari Komnas Pengendalian Tembakau. Lembaga tersebut menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh mudah percaya pada informasi yang menyesatkan tersebut.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap berbagai informasi yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional, khususnya dalam kaitannya dengan risiko penyakit diabetes. Komnas Pengendalian Tembakau menilai klaim tersebut tidak berdasar dan berpotensi membahayakan kesehatan publik.
Menurut Komnas, berbagai penelitian ilmiah justru menunjukkan bahwa bahan kimia dalam cairan vape, seperti nikotin dan zat aditif lainnya, dapat memicu resistensi insulin dan gangguan metabolisme glukosa. Hal ini jelas meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, bukan menurunkannya.
Lebih lanjut, Komnas mengingatkan bahwa iklan dan promosi yang mengklaim vape bebas risiko seringkali hanya menyoroti satu sisi dan mengabaikan bukti ilmiah yang komprehensif. Publik diminta untuk selalu kritis dan mencari informasi dari sumber terpercaya, seperti tenaga kesehatan atau lembaga riset resmi.
Oleh karena itu, Komnas Pengendalian Tembakau mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh klaim sepihak yang tidak didukung data kuat. Edukasi kesehatan yang benar dan akurat harus terus digalakkan agar publik tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.