Warga Palembang Keluhkan Dampak Buruk Asap: Sulit Tidur, Asma Kambuh, Mata Perih

Home blog Warga Palembang Keluhkan Dampak Buruk Asap: Sulit Tidur, Asma Kambuh, Mata Perih
Warga Palembang Keluhkan Dampak Buruk Asap: Sulit Tidur, Asma Kambuh, Mata Perih
Warga Palembang Keluhkan Dampak Buruk Asap: Sulit Tidur, Asma Kambuh, Mata Perih

Palembang kembali dilanda kabut asap yang semakin pekat, mengancam kesehatan warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kualitas udara di kota ini dinilai sangat berbahaya, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Seorang warga bernama Andi (45) mengaku kesulitan tidur di malam hari akibat sesak napas yang semakin parah. “Tidur jadi susah, napas terasa berat. Asma saya kambuh lagi setelah lama tidak kambuh,” keluhnya. Ia juga mengeluhkan mata perih dan tenggorokan yang gatal setiap kali berada di luar rumah.

Keluhan serupa disampaikan oleh Rina (32), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Seberang Ulu. “Anak saya batuk-batuk terus, matanya merah. Saya khawatir kalau dibiarkan, bisa kena infeksi paru-paru,” ujarnya. Rina memilih untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker setiap kali keluar.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup setempat, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik di Palembang sudah mencapai level berbahaya. Partikel halus PM2.5 yang sangat kecil mampu menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah, memicu berbagai penyakit kardiovaskular dan pernapasan.

Pemerintah setempat mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker berkualitas tinggi, dan memasang alat pembersih udara di dalam rumah. Selain itu, mereka juga terus berupaya melakukan modifikasi cuaca dengan teknologi hujan buatan untuk membersihkan udara.

Namun, upaya tersebut belum cukup signifikan. Masyarakat berharap pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi sumber polusi, seperti kebakaran hutan dan lahan yang masih marak terjadi di Sumatera Selatan. Tanpa penanganan yang serius, warga Palembang harus terus hidup dalam bayang-bayang asap beracun.