
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menegaskan pentingnya perawatan diri atau self-care dalam penanganan berbagai penyakit menular dan gangguan kesehatan mental. Dalam rekomendasi terbarunya, WHO mendorong penerapan pendekatan ini untuk HIV, tuberkulosis (TBC), hepatitis, infeksi menular seksual (IMS), serta masalah kejiwaan.
Apa Itu Perawatan Diri?
Perawatan diri merujuk pada kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk memelihara kesehatan, mencegah penyakit, serta mengelola kondisi kronis secara mandiri. WHO melihat praktik ini sebagai solusi strategis untuk memperluas akses layanan kesehatan, terutama di negara dengan sumber daya terbatas.
Manfaat Utama
- Mengurangi beban fasilitas kesehatan – Pasien dapat melakukan pemeriksaan dan pemantauan sendiri tanpa harus selalu ke klinik.
- Meningkatkan kemandirian pasien – Individu lebih aktif dalam mengelola kondisi kesehatannya.
- Menekan biaya pengobatan – Kunjungan ke dokter dan rawat inap bisa diminimalkan.
Penerapan pada Berbagai Penyakit
WHO menyebut beberapa intervensi perawatan diri yang sudah terbukti efektif, antara lain tes mandiri HIV, penggunaan alat deteksi dini hepatitis, manajemen terapi TBC di rumah, serta pemantauan gejala depresi dan kecemasan melalui aplikasi digital. Untuk IMS, edukasi tentang penggunaan kondom dan deteksi dini gejala juga termasuk dalam paket perawatan diri.
Dukungan Teknis dan Regulasi
Organisasi internasional itu meminta negara-negara anggota untuk menyusun kebijakan yang memungkinkan integrasi perawatan diri ke dalam sistem kesehatan nasional. WHO juga menyediakan panduan teknis, termasuk pelatihan tenaga kesehatan dan pengembangan alat diagnostik yang mudah digunakan masyarakat.
Dengan dukungan ini, diharapkan lebih banyak orang dapat mengakses layanan kesehatan secara mandiri, aman, dan efektif, terutama di daerah terpencil atau saat terjadi krisis seperti pandemi.