
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) memberikan peringatan serius terkait dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, partikel halus berukuran PM2,5 yang dihasilkan dari karhutla memiliki risiko tinggi memicu gangguan pernapasan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan asma.
Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil, kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga mudah terhirup dan menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan dalam jangka pendek maupun panjang dapat menyebabkan iritasi, peradangan, serta memperburuk kondisi penderita penyakit pernapasan kronis. Wamenkes menekankan bahwa kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma perlu lebih waspada saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker berstandar N95 saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik di area terbuka, serta menutup jendela rumah agar partikel tidak masuk. Selain itu, pemerintah daerah diminta aktif memantau kualitas udara dan memberikan informasi terkini kepada warga.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas meningkatnya titik api di sejumlah wilayah yang menyebabkan penyebaran kabut asap lintas daerah. Wamenkes juga mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam pencegahan karhutla, karena dampaknya tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga kesehatan manusia.