
Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Pusat mengajak masyarakat untuk secara teratur melakukan pemeriksaan atau skrining hepatitis. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyebaran penyakit yang menyerang organ hati tersebut.
Kepala Sudinkes Jakarta Pusat, dr. Evi Susanti, menjelaskan bahwa skrining hepatitis sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi. Faktor-faktor tersebut meliputi riwayat transfusi darah, penggunaan jarum suntik secara bergantian, tato atau tindik dengan alat tidak steril, serta hubungan seksual berisiko.
Pentingnya Deteksi Dini Hepatitis
Deteksi dini melalui skrining memungkinkan penanganan medis segera diberikan. Hepatitis yang terdeteksi pada tahap awal memiliki peluang kesembuhan yang lebih besar dan dapat mencegah komplikasi serius seperti sirosis atau kanker hati.
“Kami mengimbau warga, khususnya mereka yang masuk dalam kategori berisiko, untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar dr. Evi dalam keterangannya, Kamis (9/11/2023).
Pemeriksaan hepatitis dapat dilakukan di puskesmas dan rumah sakit yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta Pusat. Sudinkes juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya skrining ini kepada masyarakat.
Jenis Skrining yang Tersedia
Skrining hepatitis umumnya meliputi tes darah untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis B (HBsAg) dan hepatitis C (Anti-HCV). Kedua jenis virus ini merupakan penyebab utama hepatitis kronis di Indonesia.
Dengan skrining rutin, diharapkan kasus hepatitis dapat ditemukan lebih awal sehingga penularan dapat ditekan. Masyarakat juga diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan utama.
“Kami berharap kesadaran warga untuk skrining semakin meningkat. Kesehatan adalah investasi jangka panjang,” pungkas dr. Evi.