
Sebuah insiden keracunan massal mengguncang SMA Berastagi setelah puluhan siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Tim medis yang menangani kasus ini mengungkap temuan mengejutkan terkait bakteri patogen dalam sampel makanan tersebut.
Temuan Bakteri dalam Sampel MBG
Dokter dari puskesmas setempat melaporkan bahwa hasil laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli dan Salmonella dalam makanan yang disajikan. Bakteri ini dikenal sebagai penyebab umum keracunan makanan yang dapat memicu gangguan pencernaan akut.
“Dari sampel yang kami periksa, ditemukan koloni bakteri yang cukup tinggi. Ini menunjukkan proses higiene dan sanitasi dalam penyiapan makanan sangat buruk,” ujar dr. Andika Pratama, dokter yang menangani pasien keracunan.
Gejala yang Dialami Siswa
Para siswa yang menjadi korban mengalami mual, muntah, diare, dan pusing hebat. Sebagian bahkan harus dirawat di rumah sakit karena dehidrasi berat. Kondisi ini diperparah oleh kontaminasi bakteri yang sudah menghasilkan toksin sebelum makanan dikonsumsi.
Risiko Gagal Ginjal Akut
Yang paling mengkhawatirkan, dokter mengingatkan bahwa paparan toksin dari bakteri tertentu, terutama Shiga toxin-producing E. coli (STEC), dapat memicu sindrom hemolitik uremik (HUS) yang berujung pada gagal ginjal akut. “Jika tidak ditangani cepat, kerusakan ginjal bisa permanen dan memerlukan dialisis seumur hidup,” tambah dr. Andika.
Langkah Penanganan dan Investigasi
Dinas kesehatan setempat telah mengirimkan tim untuk melakukan investigasi di dapur penyedia MBG. Sampel makanan lain juga diambil untuk memastikan sumber kontaminasi. Sementara itu, para siswa yang masih dalam pemulihan mendapat perawatan intensif dengan pemberian cairan dan antibiotik.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya pengawasan mutu dan keamanan pangan dalam program MBG. Orang tua siswa pun mendesak pemerintah untuk melakukan audit terhadap seluruh pemasok makanan sekolah.