
UNICEF melaporkan bahwa setiap hari pada tahun 2025, sebanyak 660 anak di bawah usia 15 tahun terinfeksi HIV. Data ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan HIV pada anak masih belum optimal.
Angka yang Mengkhawatirkan
Menurut laporan terbaru UNICEF, jumlah infeksi baru pada anak-anak ini menyoroti kesenjangan dalam akses terhadap layanan kesehatan, terutama di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Sebagian besar infeksi terjadi melalui penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Faktor Penyebab
- Kurangnya akses terhadap layanan pencegahan penularan dari ibu ke anak.
- Keterbatasan tes HIV pada ibu hamil di daerah terpencil.
- Stigma dan diskriminasi yang menghambat pemeriksaan dan pengobatan.
UNICEF menekankan pentingnya intervensi dini, seperti pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada ibu hamil yang terinfeksi HIV, untuk mencegah penularan kepada bayi mereka. Tanpa pengobatan, risiko penularan bisa mencapai 45%.
Laporan ini juga menyoroti bahwa anak-anak yang hidup dengan HIV sering kali kesulitan mendapatkan perawatan berkelanjutan, yang mengakibatkan rendahnya tingkat kelangsungan hidup. UNICEF mendesak pemerintah dan mitra global untuk meningkatkan investasi dalam program HIV pediatrik.
Di Indonesia, data serupa juga menunjukkan perlunya penguatan sistem kesehatan untuk menjangkau ibu hamil dan anak-anak yang rentan. Kolaborasi antara lembaga kesehatan dan komunitas lokal menjadi kunci untuk menekan angka infeksi baru.