
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menunjukkan inovasinya di bidang kesehatan dengan mengembangkan lima teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mendeteksi berbagai penyakit. Inovasi ini diharapkan mampu mempercepat proses diagnosis, termasuk untuk penyakit serius seperti kanker dan tumor otak.
Lima AI Unggulan untuk Kesehatan
Kelima sistem AI yang dikembangkan oleh tim peneliti UMY ini memiliki fokus deteksi yang berbeda-beda, mencakup beberapa jenis penyakit yang umum ditemui. Teknologi ini menggunakan algoritma pembelajaran mendalam (deep learning) untuk menganalisis data medis seperti hasil pemindaian (scan) dan citra radiologi.
Deteksi Kanker Payudara
Salah satu AI yang dikembangkan dikhususkan untuk mendeteksi kanker payudara. Sistem ini mampu menganalisis gambar mammografi dan ultrasonografi (USG) untuk mengidentifikasi adanya jaringan abnormal yang mencurigakan. Dengan bantuan AI ini, dokter dapat memperoleh hasil analisis awal yang lebih cepat dan akurat.
Identifikasi Tumor Otak
AI lainnya dirancang untuk mendeteksi tumor otak dari hasil pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI). Teknologi ini dapat membedakan antara jaringan otak normal dengan jaringan tumor, serta membantu menentukan jenis dan lokasi tumor secara lebih presisi.
Diagnosis Penyakit Paru
Tim peneliti juga mengembangkan AI untuk mendeteksi penyakit paru-paru, termasuk pneumonia dan tuberkulosis (TBC), melalui analisis foto rontgen dada (X-ray). Sistem ini diharapkan dapat menjadi alat bantu skrining yang efektif di daerah dengan keterbatasan tenaga radiolog.
Deteksi Kelainan pada Mata
Tak hanya itu, ada pula AI yang difokuskan untuk mendeteksi retinopati diabetik, yaitu komplikasi diabetes yang dapat menyebabkan kebutaan. Sistem ini menganalisis gambar fundus mata untuk menemukan tanda-tanda awal kerusakan pembuluh darah.
Analisis Penyakit Jantung
AI kelima dikembangkan untuk membantu diagnosis penyakit jantung koroner melalui analisis elektrokardiogram (EKG) dan data klinis pasien. Teknologi ini dapat memprediksi risiko serangan jantung dengan mempelajari pola-pola tertentu dari data pasien.
Manfaat dan Harapan ke Depan
Pengembangan kelima AI ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan jumlah dokter spesialis di Indonesia, terutama di daerah terpencil. Dengan adanya sistem deteksi berbasis AI, proses diagnosis dapat dilakukan lebih cepat, sehingga penanganan pasien pun bisa lebih dini.
Para peneliti UMY juga menekankan bahwa teknologi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter, melainkan sebagai alat bantu (assistive tool) yang dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi diagnosis. Ke depannya, mereka berencana untuk terus menyempurnakan algoritma dan melakukan uji klinis agar sistem ini dapat segera digunakan secara luas di fasilitas kesehatan.