
Suara tawa para pejuang kanker kembali terdengar meriah di Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Semarang. Aktivitas bermain pingpong di sana kini tidak sekadar hiburan, melainkan telah menjadi bagian dari terapi psikologis yang membantu pasien dalam proses pemulihan.
Pingpong sebagai Alat Terapi Psikologis
Meja pingpong yang sebelumnya hanya menjadi perabot biasa, kini berubah fungsi menjadi sarana terapi yang efektif. Melalui olahraga ringan ini, para pasien kanker tidak hanya bergerak aktif, tetapi juga melepaskan stres dan kecemasan yang kerap menyertai perjalanan pengobatan mereka.
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan pasien dari berbagai usia. Mereka tampak antusias saling beradu pukul, sesekali diselingi canda tawa yang menghangatkan suasana. “Bermain pingpong membuat saya lupa sejenak dengan rasa sakit dan khawatir. Rasanya seperti kembali normal,” ujar salah satu peserta.
Manfaat Fisik dan Mental
Terapi melalui olahraga pingpong memberikan manfaat ganda. Secara fisik, gerakan memukul bola melatih koordinasi mata dan tangan, serta meningkatkan sirkulasi darah. Secara mental, fokus pada permainan membantu mengalihkan pikiran dari tekanan penyakit.
Para psikolog yang mendampingi kegiatan ini menegaskan bahwa dukungan sosial dan aktivitas fisik ringan sangat penting bagi pasien kanker. “Mereka butuh merasa tetap produktif dan terhubung dengan orang lain. Pingpong menjadi jembatan itu,” jelas salah satu relawan.
Rumah Singgah YKI Semarang: Tempat Berbagi dan Saling Menguatkan
Rumah Singgah YKI Semarang selama ini menjadi tempat transit bagi pasien kanker dari berbagai daerah yang menjalani pengobatan di kota tersebut. Selain menyediakan tempat tinggal sementara, rumah singgah ini juga aktif mengadakan berbagai kegiatan terapi, termasuk sesi bermain pingpong.
Kegiatan rutin ini diharapkan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak pasien. “Setiap tawa yang terdengar di sini adalah tanda bahwa mereka masih punya semangat untuk sembuh,” tutup pengelola rumah singgah.