
Seorang penderita kanker payudara di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, mengaku telah menghabiskan dua tahun untuk berobat ke dukun sebelum akhirnya menyadari perlunya penanganan medis yang lebih layak. Kisah ini menjadi gambaran nyata tentang kesenjangan akses layanan kesehatan di daerah terpencil.
Pasien tersebut, yang identitasnya dirahasiakan, awalnya memilih jalur pengobatan alternatif karena keterbatasan biaya dan minimnya informasi tentang kanker. Selama dua tahun, ia hanya mengandalkan ramuan tradisional dan ritual dari dukun setempat, namun kondisi kesehatannya terus memburuk.
Kini, setelah merasakan sakit yang tak tertahankan, ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap layanan kesehatan, khususnya bagi penderita kanker di wilayah pedesaan. Ia mendambakan akses ke rumah sakit, dokter spesialis, serta obat-obatan yang memadai tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota.
Kisah ini juga menyoroti pentingnya edukasi tentang kanker sejak dini, agar masyarakat tidak lagi terjebak pada mitos dan pengobatan yang tidak tepat. Dengan diagnosis dan penanganan yang cepat, harapan kesembuhan bagi penderita kanker payudara bisa lebih besar.