
Belakangan ini, pernyataan Prabowo mengenai bahan bangunan seperti asbes dan seng menjadi perbincangan hangat. Kaitannya dengan risiko kesehatan, khususnya kanker paru, pun langsung menuai perhatian publik. Para ahli medis pun angkat bicara untuk memberikan klarifikasi ilmiah di balik hubungan tersebut.
Apa Kata Dokter Soal Asbes dan Seng?
Menurut penjelasan dokter spesialis paru, asbes memang sudah lama dikenal sebagai salah satu penyebab utama kanker paru (mesothelioma) jika terhirup dalam jangka panjang. Serat asbes yang sangat halus dapat masuk ke saluran pernapasan dan menetap di jaringan paru, memicu peradangan kronis yang berujung pada mutasi sel kanker.
Sementara itu, seng (zinc) dalam bentuk logam atau debu seng umumnya tidak langsung dikaitkan dengan kanker paru pada paparan normal. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan debu seng dalam konsentrasi tinggi dan dalam waktu lama bisa mengiritasi saluran napas dan memperburuk kondisi paru yang sudah lemah. Meski begitu, risiko kanker dari seng jauh lebih rendah dibandingkan asbes.
Fakta Penting yang Perlu Dipahami
- Asbes diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1 oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), artinya sudah terbukti menyebabkan kanker pada manusia.
- Seng termasuk logam esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, namun paparan berlebih pada saluran napas tetap perlu diwaspadai.
- Kombinasi paparan asbes dan kebiasaan merokok meningkatkan risiko kanker paru secara signifikan.
Dokter menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan, tetapi harus lebih waspada terhadap penggunaan material bangunan yang mengandung asbes, terutama di lingkungan rumah atau tempat kerja. Jika memungkinkan, sebaiknya mengganti material tersebut dengan alternatif yang lebih aman.
Pernyataan Prabowo ini diharapkan dapat mendorong kesadaran publik dan kebijakan yang lebih ketat terkait penggunaan asbes di Indonesia demi kesehatan bersama.