
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan pernyataan yang mengejutkan publik mengenai hubungan antara bahan seng dengan risiko kanker paru-paru. Dalam pernyataannya, beliau menyebutkan bahwa paparan seng dapat memicu penyakit kanker paru. Namun, pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan dari seorang Guru Besar Universitas Indonesia (UI) yang membantah klaim tersebut.
Bantahan dari Guru Besar UI
Guru Besar UI yang merupakan pakar di bidang kesehatan paru-paru menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kuat yang mendukung pernyataan Presiden Prabowo. Menurutnya, seng adalah mineral esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah tertentu dan justru memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh. Paparan seng dalam kadar normal tidak terbukti menyebabkan kanker paru-paru.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa faktor utama penyebab kanker paru-paru adalah kebiasaan merokok, paparan asap rokok, polusi udara, dan faktor genetik. Seng tidak termasuk dalam daftar karsinogen yang diketahui oleh organisasi kesehatan dunia seperti WHO atau IARC (International Agency for Research on Cancer).
Klarifikasi Ilmiah
Para ahli juga menambahkan bahwa meskipun paparan logam berat tertentu seperti arsenik dan nikel memang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru, seng tidak termasuk dalam kategori tersebut. Justru, kekurangan seng dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan fungsi imun dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
Pernyataan Presiden Prabowo ini menuai berbagai reaksi dari masyarakat dan kalangan medis. Banyak yang berharap agar pernyataan terkait kesehatan didasarkan pada data dan riset yang valid agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana terkait bantahan dari Guru Besar UI tersebut.