
Selama dua tahun terakhir, Pak Herman harus menghadapi pahitnya hidup seorang diri saat berjuang melawan stroke. Kisah pilu pria yang hidup sebatang kara ini akhirnya menarik perhatian dan menggerakkan hati Lurah Mosso.
Kondisi Pak Herman yang memprihatinkan membuat sang lurah tergerak untuk turun tangan. Tanpa ada keluarga yang mendampingi, Pak Herman menjalani hari-harinya dengan keterbatasan fisik akibat penyakit yang dideritanya.
Kisah ini menjadi pengingat betapa pentingnya kepedulian sosial terhadap sesama, terutama bagi mereka yang kurang beruntung. Lurah Mosso berharap kisah Pak Herman bisa menjadi inspirasi bagi warga lainnya untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar.