
Memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) tahun 2026, seorang akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menekankan pentingnya aktivitas fisik dalam menekan risiko berbagai penyakit mematikan. Menurutnya, gaya hidup sedentari atau kurang gerak menjadi salah satu faktor utama peningkatan kasus penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi.
Dalam keterangannya, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Unesa tersebut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas harian. Ia menegaskan bahwa bergerak secara teratur, meskipun hanya dalam durasi singkat, mampu memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung, meningkatkan metabolisme tubuh, serta memperkuat sistem imun.
“Mulai dari jalan kaki, bersepeda, hingga senam sederhana di rumah, semua bisa dilakukan. Yang penting konsisten,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa penyakit mematikan sering kali datang tanpa gejala awal yang jelas, sehingga pencegahan melalui gaya hidup aktif menjadi langkah utama yang murah dan efektif.
Haornas tahun ini mengusung tema yang mengajak masyarakat untuk kembali menyadari pentingnya gerak tubuh. Akademisi Unesa berharap momentum ini bisa menjadi pengingat bahwa berolahraga bukan sekadar ajang prestasi, melainkan investasi kesehatan jangka panjang.
Lebih lanjut, ia menyoroti data global yang menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik berkontribusi terhadap sekitar 3,2 juta kematian per tahun di seluruh dunia. Dengan meningkatkan partisipasi olahraga di kalangan masyarakat, angka tersebut diyakini bisa ditekan secara signifikan.
Oleh karena itu, ia merekomendasikan setiap orang untuk mulai meluangkan waktu setidaknya 30 menit per hari untuk bergerak. Baik itu olahraga ringan maupun aktivitas fisik lainnya, yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan terukur sesuai kemampuan masing-masing.