
Di tengah sibuknya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar perang dagang dengan berbagai negara, warga AS justru dihadapkan pada masalah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kenaikan harga daging.
Dampak Perang Dagang Terhadap Harga Daging
Kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump telah memicu kenaikan harga daging di pasar domestik. Para peternak dan produsen daging di AS mulai merasakan tekanan akibat biaya pakan ternak yang melonjak, terutama karena impor bahan baku dari China dan negara lain terkena bea masuk tinggi.
Akibatnya, harga daging sapi, ayam, dan babi di supermarket AS mengalami kenaikan signifikan. Konsumen yang biasanya membeli daging dalam jumlah besar kini harus berpikir dua kali karena anggaran belanja mereka semakin terbatas.
Kenaikan Harga yang Tidak Terduga
Data dari Departemen Pertanian AS menunjukkan bahwa harga daging sapi naik sekitar 15% dalam tiga bulan terakhir, sementara daging ayam dan babi masing-masing naik 10% dan 12%. Kenaikan ini terjadi di saat inflasi umum di AS sudah mulai mereda, membuat warga semakin frustrasi.
Seorang ibu rumah tangga di Ohio, Mary Johnson, mengungkapkan kekesalannya, “Kami biasanya membeli daging untuk seminggu, tapi sekarang harganya sudah seperti barang mewah. Kami terpaksa mengurangi porsi daging dan beralih ke sumber protein lain seperti telur dan kacang-kacangan.”
Protes dari Peternak dan Pedagang
Para peternak juga ikut merasakan dampak negatif. Biaya pakan ternak yang naik drastis membuat margin keuntungan mereka menipis. Beberapa peternak bahkan terpaksa mengurangi jumlah ternak untuk menekan biaya operasional.
Sementara itu, pedagang daging di pasar tradisional mengeluhkan penurunan penjualan karena konsumen beralih ke produk alternatif yang lebih murah. “Penjualan turun hingga 30% dalam dua bulan terakhir. Pelanggan kami banyak yang mengeluh dan memilih untuk tidak membeli daging sama sekali,” ujar seorang pedagang di Pasar Raya New York.
Pemerintah AS Berupaya Mengatasi
Pemerintah AS telah mengumumkan beberapa langkah untuk meredakan kenaikan harga daging, termasuk memberikan subsidi kepada peternak dan membuka impor daging dari negara-negara yang tidak terkena tarif tinggi. Namun, langkah-langkah ini belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam jangka pendek.
Para ekonom memperingatkan bahwa jika perang dagang terus berlanjut, kenaikan harga daging bisa semakin parah dan berdampak pada inflasi pangan secara keseluruhan. Masyarakat pun diharapkan untuk lebih bijak dalam mengatur anggaran belanja dan mencari alternatif protein yang lebih terjangkau.