
Puluhan anak muda di Banyuwangi mengalami gagal ginjal hingga harus menjalani cuci darah. Dinas Kesehatan setempat menyoroti konsumsi minuman manis dan hipertensi sebagai faktor utama penyebab kondisi ini.
Menurut data Dinkes Banyuwangi, tren kasus gagal ginjal pada usia produktif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. “Kami melihat ada lonjakan signifikan pada pasien usia 15-35 tahun yang membutuhkan terapi cuci darah,” ungkap Kepala Dinkes Banyuwangi, dr. Amelia Rizki, dalam konferensi pers kemarin.
Minuman manis yang mengandung kadar gula tinggi, seperti bubble tea, soda, dan minuman kemasan, menjadi salah satu pemicu utama. Kandungan gula berlebih dalam minuman ini dapat menyebabkan obesitas, diabetes tipe 2, dan akhirnya kerusakan ginjal. “Kebiasaan minum minuman manis setiap hari, tanpa disadari, memicu resistensi insulin dan tekanan darah tinggi,” jelas dr. Amelia.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi juga menjadi penyebab utama. Banyak anak muda tidak menyadari bahwa tekanan darah mereka sudah di atas normal. “Hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala awal, sehingga penderitanya tidak segera melakukan pemeriksaan. Akibatnya, ginjal terus rusak tanpa pengobatan yang tepat,” tambahnya.
Dinkes Banyuwangi kini mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih waspada. “Kurangi konsumsi minuman manis, perbanyak minum air putih, dan rutin periksa tekanan darah,” kata dr. Amelia. Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan di puskesmas atau posyandu terdekat secara gratis.
Selain itu, Dinkes juga akan mensosialisasikan risiko minuman manis dan hipertensi ke sekolah-sekolah dan komunitas pemuda. “Kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini bahwa ginjal adalah organ vital yang harus dijaga. Cuci darah seumur hidup bukanlah pilihan yang menyenangkan,” tegasnya.
Data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan menunjukkan bahwa dalam setahun terakhir, terdapat 25 pasien baru usia di bawah 35 tahun yang menjalani hemodialisis. Sebagian besar dari mereka mengaku rutin mengonsumsi minuman manis setiap hari dan tidak pernah memeriksa tekanan darah.
Hingga berita ini diturunkan, Dinkes Banyuwangi terus melakukan upaya pencegahan melalui program deteksi dini dan edukasi. Masyarakat diharapkan dapat mengubah kebiasaan demi mencegah lonjakan kasus serupa di masa mendatang.