
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkap potensi besar bunga kenanga (Cananga odorata) dalam dunia kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung senyawa aktif yang mampu berperan sebagai antioksidan dan membantu mengelola kadar gula darah.
Tim peneliti menemukan bahwa ekstrak kenanga kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan kuat. Senyawa ini dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, yang sering dikaitkan dengan penuaan dini dan berbagai penyakit degeneratif.
Selain itu, uji laboratorium menunjukkan bahwa kenanga juga memiliki efek antidiabetes. Kandungan bioaktif di dalamnya mampu menghambat enzim alfa-glukosidase dan alfa-amilase, yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi gula sederhana. Dengan menghambat enzim-enzim tersebut, penyerapan gula di usus menjadi lebih lambat, sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Peneliti utama dari BRIN, Dr. Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa temuan ini membuka peluang besar untuk pengembangan obat herbal berbasis kenanga. “Kenanga telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, namun baru sekarang kami memiliki bukti ilmiah yang kuat mengenai manfaatnya untuk diabetes dan antioksidan,” ujarnya dalam konferensi pers.
Penelitian ini masih dalam tahap awal dan memerlukan uji klinis lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya pada manusia. Namun, hasil ini sudah cukup menjanjikan untuk dikembangkan menjadi suplemen atau obat herbal yang mudah diakses masyarakat.
Masyarakat diimbau untuk tetap berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menggunakan kenanga sebagai pengobatan alternatif. BRIN dan UGM berencana melanjutkan penelitian ini dengan menguji berbagai formulasi ekstrak kenanga yang paling efektif.