
Banyuwangi digemparkan oleh kabar puluhan anak muda yang menderita gagal ginjal hingga harus menjalani cuci darah. Dinas Kesehatan setempat mengaitkan fenomena ini dengan konsumsi minuman manis berlebihan dan hipertensi.
Data terkini menunjukkan ada sepuluh pasien muda di Banyuwangi yang rutin menjalani hemodialisis atau cuci darah karena ginjalnya tidak lagi berfungsi normal. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena usia penderita jauh di bawah usia rata-rata pasien gagal ginjal pada umumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr. Widji Lestariono menjelaskan bahwa tren konsumsi minuman manis kemasan yang tinggi telah meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. “Kandungan gula yang sangat tinggi dalam minuman manis dapat merusak pembuluh darah di ginjal secara perlahan,” ujarnya.
Selain minuman manis, hipertensi juga menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan ginjal. Banyak anak muda di Banyuwangi yang tidak menyadari bahwa tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol bisa menyebabkan gagal ginjal stadium akhir.
Para pasien yang kini menjalani terapi cuci darah rata-rata harus meluangkan waktu 4-5 jam setiap sesi, dua kali seminggu. Biaya pengobatan yang tinggi menjadi beban tambahan bagi keluarga mereka.
Dinkes Banyuwangi mengimbau masyarakat, terutama generasi muda, untuk membatasi konsumsi gula harian sesuai anjuran WHO, yaitu maksimal 25 gram atau setara dengan 4 sendok makan per hari. Selain itu, rutin memeriksa tekanan darah dan menjalani pola hidup sehat seperti berolahraga dan menghindari rokok sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit ginjal.
“Kami terus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan komunitas tentang bahaya minuman manis dan pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini,” pungkas Widji.