
Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (SDRHDT) yang disutradarai oleh Edwin kembali menjadi perbincangan hangat. Karya yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eka Kurniawan ini tidak hanya menyajikan kisah cinta yang rumit, tetapi juga mengupas isu maskulinitas dan impotensi dengan cara yang unik dan provokatif.
Melalui karakter utama, Ajo Kawir, film ini menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap konsep kejantanan dalam masyarakat. Ajo Kawir, seorang laki-laki yang mengalami impotensi akibat trauma masa lalu, justru digambarkan sebagai sosok yang sangat agresif dan sering terlibat perkelahian. Ironi ini menjadi inti dari cerita, di mana ketidakmampuan fisik justru memicu perilaku hiper-maskulin yang berlebihan.
Film ini dengan cerdas membongkar mitos bahwa maskulinitas hanya diukur dari kemampuan seksual. Alih-alih menjadi lemah, impotensi Ajo Kawir justru menjadi simbol perlawanan terhadap norma-norma patriarki yang kaku. Ia mencari makna cinta dan identitasnya di luar definisi tradisional tentang laki-laki.
Sinematografi yang kuat dan penampilan apik dari para pemain, seperti Marthino Lio dan Ladya Cheryl, berhasil menghidupkan nuansa surealis yang kental dalam film ini. Dialog-dialog yang puitis namun tajam semakin memperkuat pesan tentang kerapuhan dan kekuatan dalam diri manusia.
Secara keseluruhan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas bukan sekadar film drama romantis. Ia adalah sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana masyarakat mendefinisikan kelelakian, dan bagaimana seseorang bisa menemukan jati dirinya di tengah tekanan sosial. Film ini wajib ditonton bagi mereka yang ingin melihat perspektif baru tentang maskulinitas dan cinta.