
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Farmasi Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar program pemberdayaan masyarakat di Desa Cianting, Kabupaten Purwakarta. Fokus utama kegiatan ini adalah mengedukasi warga tentang pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai upaya pencegahan diabetes sejak dini.
Mengapa TOGA Penting untuk Cegah Diabetes?
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang angka kejadiannya terus meningkat di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi diabetes di Tanah Air mencapai 2% pada tahun 2018, dan diperkirakan terus bertambah. Oleh karena itu, tim PKM Unisba menilai perlu ada intervensi dari hulu, yaitu dengan membudayakan pola hidup sehat dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar.
Tanaman yang Direkomendasikan
Dalam kegiatan yang berlangsung di Desa Cianting tersebut, para dosen dan mahasiswa Farmasi Unisba memperkenalkan beberapa jenis tanaman yang terbukti secara ilmiah memiliki khasiat menurunkan kadar gula darah. Tanaman tersebut antara lain sambiloto, daun insulin, pare, dan kayu manis. Masyarakat diajarkan cara menanam, merawat, hingga mengolah tanaman tersebut menjadi ramuan sederhana yang aman dikonsumsi.
Edukasi Langsung ke Masyarakat
Program ini tidak hanya berhenti pada sosialisasi teori. Tim PKM juga mengadakan pelatihan praktik pembuatan minuman herbal dari TOGA. Warga setempat, terutama ibu-ibu rumah tangga, sangat antusias mengikuti setiap sesi. Mereka belajar bagaimana mengombinasikan tanaman obat agar rasa lebih enak, tetapi khasiatnya tetap optimal.
- Penyuluhan: Materi tentang gejala awal diabetes, faktor risiko, dan cara deteksi dini menggunakan alat sederhana.
- Pelatihan: Praktek mengolah daun insulin menjadi teh herbal dan membuat ekstrak sambiloto dalam bentuk kapsul.
- Pendampingan: Monitoring rutin oleh mahasiswa untuk memastikan warga konsisten menerapkan tanaman obat dalam keseharian.
Harapan untuk Masa Depan
Ketua Tim PKM, apt. Nining, M.Farm., menyampaikan harapannya agar program ini dapat menjadi model pemberdayaan kesehatan di desa-desa lain. “Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi konsumen obat kimia, tetapi juga mampu memanfaatkan kekayaan alam di sekitar untuk menjaga kesehatan secara mandiri,” ujarnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung program pemerintah menurunkan angka diabetes. Melalui pendekatan berbasis TOGA, diharapkan warga Desa Cianting dapat lebih sadar akan pentingnya gaya hidup sehat dan pengobatan preventif.