
Seorang kakek yang bekerja sebagai tukang tambal ban mengalami musibah ganda. Ia dicoret dari daftar penerima bantuan sosial (bansos) karena terdata memiliki mobil. Padahal, kondisi ekonominya jauh dari kata mampu. Lebih menyedihkan lagi, istrinya sedang menderita stroke dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Pencoretan Bansos karena Data Kendaraan
Kakek tersebut sebelumnya rutin menerima bansos dari pemerintah. Namun, tiba-tiba bantuan itu dihentikan. Alasannya, namanya tercatat sebagai pemilik kendaraan roda empat. Faktanya, mobil yang dimaksud bukanlah milik pribadi yang bisa digunakan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
“Saya hanya tukang tambal ban, mana mungkin punya mobil mewah. Itu mobil bekas pemberian anak saya yang sudah tua dan sering rusak,” ujar kakek itu dengan nada pasrah.
Kondisi Istri yang Memprihatinkan
Di tengah keterbatasan ekonomi, sang istri justru terkena stroke. Penyakit ini membutuhkan perawatan intensif dan obat-obatan yang mahal. Setiap bulan, biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan istri mencapai jutaan rupiah.
“Saya bingung, dari mana lagi saya cari uang. Penghasilan tambal ban hanya cukup untuk makan sehari-hari,” keluhnya.
Harapan untuk Mendapatkan Kembali Bansos
Kakek ini berharap pemerintah bisa meninjau ulang data penerima bansos. Ia berharap pencoretan karena kepemilikan mobil yang tak layak pakai bisa dipertimbangkan kembali. “Saya hanya ingin sedikit bantuan untuk istri saya yang sakit,” pungkasnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa validasi data penerima bansos perlu dilakukan secara lebih teliti. Jangan sampai warga yang benar-benar membutuhkan justru terabaikan karena kesalahan administrasi.