
Di tengah tumpukan sampah residu yang mencapai 150 ton per hari di Klaten, hidup seorang perempuan tangguh bernama Ibu Jumirah. Ia menjalani hari-harinya dengan penuh penerimaan, atau dalam filosofi Jawa dikenal sebagai “nrimo ing pandum”. Namun, penerimaan itu bukan tanpa perjuangan. Ibu Jumirah harus berbagi tempat tinggal dengan belatung dan bergulat dengan penyakit diabetes yang dideritanya.
Setiap hari, ia menyusuri gunungan sampah untuk mencari barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan atau dijual. Kondisi lingkungan yang kumuh dan penuh bakteri menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatannya. Meski demikian, Ibu Jumirah tetap tabah dan bersyukur atas apa yang dimiliki.
Kisahnya menjadi cermin ironi pengelolaan sampah di Klaten. Di satu sisi, volume sampah residu terus menggunung, di sisi lain, pemulung seperti Ibu Jumirah menjadi garda terdepan yang tak dianggap. Kehidupannya mengajarkan kita arti ketangguhan dan kepasrahan di tengah keterbatasan.
Penyakit diabetes yang dideritanya kian memperberat kondisi fisik. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia terus berjuang, berharap ada perubahan dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.