
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia terus mengintensifkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hepatitis melalui program skrining atau deteksi dini yang masif. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya angka prevalensi hepatitis di tanah air, yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Fokus pada Deteksi Dini
Program skrining hepatitis yang digencarkan Kemenkes bertujuan untuk menemukan kasus hepatitis secara lebih awal, terutama pada mereka yang mungkin tidak menunjukkan gejala. Dengan deteksi dini, penderita dapat segera mendapatkan penanganan medis yang tepat, sehingga risiko komplikasi dan penularan lebih lanjut dapat diminimalkan.
“Skrining menjadi kunci dalam upaya kita menekan angka kesakitan dan kematian akibat hepatitis. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang kesembuhan,” ujar perwakilan Kemenkes dalam keterangan resminya.
Target Kelompok Berisiko Tinggi
Pelaksanaan skrining ini diprioritaskan pada kelompok-kelompok yang memiliki risiko tinggi terinfeksi virus hepatitis, antara lain:
- Tenaga kesehatan yang sering terpapar darah dan cairan tubuh pasien.
- Pasien yang sering menjalani transfusi darah atau produk darah.
- Pengguna jarum suntik secara bergantian, terutama pada pengguna narkoba suntik.
- Individu dengan perilaku seksual berisiko tinggi.
- Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis B atau C.
Jenis Skrining yang Dilakukan
Pemeriksaan yang dilakukan dalam program skrining ini meliputi tes darah untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis B (HBsAg) dan hepatitis C (anti-HCV). Jika hasil tes menunjukkan positif, pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk pemeriksaan lanjutan dan pengobatan.
Kemenkes juga mengintegrasikan skrining hepatitis dengan program kesehatan lainnya, seperti pemeriksaan ibu hamil dan imunisasi dasar, guna menjangkau lebih banyak sasaran secara efektif.
Harapan ke Depan
Melalui program skrining yang gencar ini, Kemenkes berharap dapat mencapai target eliminasi hepatitis pada tahun 2030, sesuai dengan komitmen global. Masyarakat diimbau untuk proaktif memeriksakan diri, terutama jika termasuk dalam kelompok berisiko tinggi. Dengan partisipasi aktif semua pihak, beban penyakit hepatitis di Indonesia diharapkan dapat terus ditekan.