
Laporan intelijen Amerika Serikat baru-baru ini mengungkapkan bahwa Iran tetap memiliki kekuatan yang signifikan meskipun telah melalui 13 hari pertempuran. Temuan ini membuat Presiden Trump merasa frustrasi karena menunjukkan bahwa sanksi dan tekanan militer belum mampu melemahkan Republik Islam tersebut.
Kekuatan Iran yang Tak Kunjung Pudar
Berdasarkan analisis dari badan intelijen AS, Iran masih mempertahankan kemampuan militernya yang utama, termasuk rudal balistik, drone, dan jaringan proksi di kawasan. Laporan tersebut menekankan bahwa meskipun ada serangan bertubi-tubi, infrastruktur pertahanan Iran tetap berfungsi dengan baik.
Dampak pada Strategi AS
Pengakuan ini menjadi pukulan telak bagi kebijakan Trump yang selama ini mengklaim bahwa tekanan maksimum telah berhasil melumpuhkan Iran. Kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya, di mana Iran masih mampu melancarkan serangan balasan dan mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah.
- Iran masih memiliki stok rudal balistik yang cukup besar
- Jaringan milisi proksi di Irak, Suriah, dan Yaman tetap aktif
- Program nuklir Iran terus berjalan tanpa hambatan berarti
Reaksi Pemerintah Trump
Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini. Namun, sumber internal menyebutkan bahwa Trump sangat kecewa dengan temuan intelijen tersebut. Beberapa penasihat keamanan nasional bahkan mulai mempertanyakan efektivitas strategi yang selama ini diterapkan.
Para analis memperingatkan bahwa situasi ini bisa memicu eskalasi lebih lanjut jika AS memutuskan untuk meningkatkan tekanan. Di sisi lain, Iran justru semakin percaya diri karena berhasil bertahan dari serangan bertubi-tubi.