
Emosi yang meluap, seperti marah atau stres berat, ternyata tidak hanya memengaruhi kesehatan mental tetapi juga dapat meningkatkan risiko stroke. Penelitian menunjukkan bahwa ledakan emosi dapat memicu lonjakan tekanan darah dan detak jantung secara drastis, yang pada akhirnya membebani pembuluh darah.
Ketika seseorang marah, tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini menyebabkan pembuluh darah menyempit dan tekanan darah meningkat. Bagi individu yang sudah memiliki kondisi pembuluh darah yang rapuh, kondisi ini bisa memicu pecahnya pembuluh darah di otak atau terbentuknya gumpalan darah yang menyumbat aliran darah.
Selain itu, emosi negatif yang berlangsung lama juga dapat menyebabkan peradangan kronis dalam tubuh. Peradangan ini diketahui berkontribusi terhadap pembentukan plak di arteri, yang meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah ke otak.
Para ahli menyarankan untuk mengelola emosi dengan baik, misalnya melalui teknik relaksasi, olahraga teratur, atau berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Dengan menjaga kestabilan emosi, risiko stroke dapat ditekan secara signifikan.
Bagi penderita hipertensi atau riwayat stroke, sangat penting untuk menghindari pemicu kemarahan dan belajar teknik pengendalian diri. Konsultasi dengan dokter juga diperlukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.