
Sebanyak 167 relawan dari program SPPG (Sekolah Penggerak Pangan dan Gizi) menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hasil skrining menunjukkan bahwa 39 orang di antaranya terindikasi mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi), sementara 12 lainnya memiliki risiko tinggi terkena diabetes melitus.
Kegiatan skrining ini merupakan bagian dari upaya deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) di kalangan relawan. Hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit kronis yang sering kali tidak menunjukkan gejala awal, sehingga deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Angka Hipertensi dan Risiko Diabetes pada Relawan
Dari total 167 relawan yang diperiksa, ditemukan 39 orang (sekitar 23,3%) memiliki tekanan darah di atas batas normal. Kondisi ini memerlukan penanganan lebih lanjut, baik melalui perubahan gaya hidup maupun terapi medis. Sementara itu, 12 relawan (sekitar 7,2%) teridentifikasi memiliki risiko diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah puasa dan faktor risiko lainnya.
Menurut data, prevalensi hipertensi di Indonesia masih cukup tinggi. Hasil skrining ini sejalan dengan temuan nasional yang menunjukkan bahwa hipertensi sering kali tidak terdiagnosis pada tahap awal. Oleh karena itu, skrining rutin sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga atau gaya hidup tidak sehat.
Langkah Lanjutan untuk Relawan Berisiko
Bagi relawan yang terindikasi hipertensi dan risiko diabetes, akan diberikan konseling kesehatan dan edukasi tentang pola makan, aktivitas fisik, serta manajemen stres. Mereka juga akan dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan yang tepat.
Program SPPG sendiri bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang dan pencegahan penyakit. Melalui skrining ini, diharapkan para relawan dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dalam menerapkan pola hidup sehat.
Hasil skrining ini menjadi pengingat bahwa penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia atau status. Oleh karena itu, deteksi dini dan intervensi yang tepat sangat penting untuk mengurangi beban penyakit di masyarakat.