
Kadar gula darah yang naik turun secara drastis ternyata dapat memberikan tekanan tambahan pada organ jantung. Kondisi ini sering disebut sebagai fluktuasi glukosa, di mana lonjakan dan penurunan gula darah yang ekstrem bisa memicu berbagai masalah kardiovaskular.
Menurut para ahli, ketika gula darah melonjak tinggi, tubuh akan merespons dengan melepaskan hormon stres seperti adrenalin. Hormon ini dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, yang dalam jangka panjang membuat jantung bekerja lebih keras dari biasanya. Sebaliknya, saat gula darah turun drastis, tubuh bisa mengalami hipoglikemia yang juga berdampak pada irama jantung.
Penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi gula darah yang sering terjadi dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat proses aterosklerosis, yaitu pengerasan arteri. Hal ini meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke. Oleh karena itu, menjaga kestabilan gula darah sangat penting, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki risiko tinggi.
Untuk mencegah efek buruk ini, disarankan untuk mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah, makan dalam porsi kecil namun sering, serta rutin berolahraga. Pemantauan gula darah secara berkala juga membantu mendeteksi fluktuasi sejak dini. Dengan pola hidup sehat, beban kerja jantung dapat dikurangi dan risiko komplikasi kardiovaskular pun menurun.