
Fenomena cuaca ekstrem berupa gelombang panas (heatwave) yang melanda Kota Surabaya belakangan ini mendapat sorotan serius dari para ahli. Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkapkan bahwa suhu udara di Ibu Kota Jawa Timur itu telah mencapai angka 40 derajat Celsius, sebuah kondisi yang dinilai sangat membahayakan kesehatan masyarakat.
Dampak Kritis pada Kesehatan Mental dan Fisik
Menurut pakar ITS, paparan suhu setinggi itu tidak hanya menyebabkan gangguan fisik seperti dehidrasi atau heatstroke, tetapi juga berpotensi memicu masalah kejiwaan. Peningkatan suhu ekstrem dapat mengganggu keseimbangan hormon dan sistem saraf, yang pada akhirnya memicu stres, kecemasan berlebih, hingga depresi pada individu yang rentan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sinar ultraviolet (UV) yang intens selama gelombang panas meningkatkan risiko kanker kulit. Paparan UV dalam waktu lama tanpa perlindungan memadai dapat merusak DNA sel kulit dan memicu pertumbuhan sel kanker.
Ancaman Tersembunyi bagi Warga Kota
Para peneliti ITS menekankan bahwa kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah kota dan warga Surabaya. Mereka mendesak adanya langkah mitigasi yang lebih konkret, seperti penyediaan ruang terbuka hijau, tempat berteduh di area publik, serta kampanye penggunaan tabir surya dan pakaian pelindung.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 16.00, saat intensitas panas paling tinggi. Minum air putih yang cukup dan mengenakan pakaian longgar berbahan katun juga disarankan untuk mengurangi risiko dampak buruk heatwave.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat akan perubahan iklim global yang semakin nyata. Surabaya, sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia, harus segera beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi akan semakin sering terjadi di masa mendatang.