
FK UNAIR Soroti Peran Krusial Imunisasi Guna Hentikan Penularan Hepatitis B dari Ibu ke Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) kembali menegaskan betapa vitalnya perlindungan ganda dalam memutus rantai penularan virus Hepatitis B (HBV) dari ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan angka infeksi baru pada populasi rentan, yaitu bayi baru lahir.
Menurut para pakar kesehatan di FK UNAIR, penularan HBV dari ibu ke anak saat proses persalinan masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Tanpa intervensi yang tepat, risiko bayi terinfeksi bisa sangat tinggi. Oleh karena itu, pendekatan perlindungan ganda yang menggabungkan pemberian vaksin Hepatitis B aktif dan imunoglobulin (HBIG) dalam 12 jam pertama kehidupan menjadi kunci utama.
Mengapa Perlindungan Ganda Begitu Krusial?
Vaksinasi tunggal memang penting, tetapi untuk kasus ibu dengan viral load tinggi, perlindungan ganda memberikan lapisan pertahanan ekstra. HBIG bertindak sebagai antibodi instan yang langsung menetralisir virus yang mungkin terpapar saat bayi melewati jalan lahir, sementara vaksin aktif akan merangsang sistem kekebalan bayi untuk membangun pertahanan jangka panjang.
“Langkah ini sudah terbukti secara ilmiah mampu menurunkan risiko penularan hingga lebih dari 90 persen. Jika hanya mengandalkan vaksin biasa, efektivitasnya masih di bawah angka tersebut, terutama pada ibu dengan infeksi aktif,” jelas seorang perwakilan dari tim peneliti FK UNAIR.
Implementasi di Lapangan dan Tantangan yang Dihadapi
Meski rekomendasi ini sudah jelas, implementasinya di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia masih belum merata. Ketersediaan HBIG yang terbatas, keterlambatan pemberian imunisasi setelah lahir, serta kurangnya kesadaran ibu hamil untuk melakukan skrining HBV secara rutin menjadi hambatan utama.
FK UNAIR mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem logistik vaksin serta meningkatkan edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat. Skrining pada ibu hamil, terutama melalui tes HBsAg, harus menjadi prosedur standar yang diakses secara gratis di setiap puskesmas dan rumah sakit.
Harapan ke Depan: Menuju Generasi Bebas Hepatitis B
Dengan penguatan perlindungan ganda ini, FK UNAIR optimis target eliminasi Hepatitis B pada tahun 2030 dapat tercapai. Setiap bayi yang lahir bebas dari infeksi HBV bukan hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga mencegah beban penyakit kronis seperti sirosis dan kanker hati di masa dewasa.
“Ini adalah investasi jangka panjang. Satu suntikan tepat waktu bisa mengubah masa depan seorang anak. Kita semua punya peran untuk memastikan tak ada lagi bayi yang lahir dengan Hepatitis B,” pungkas tim FK UNAIR.
Langkah ini sejalan dengan program nasional dan global untuk menciptakan generasi mendatang yang lebih sehat, tanpa beban infeksi yang seharusnya bisa dicegah.