
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan duduk dalam waktu lama—sekitar 6 hingga 8 jam per hari—dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Peringatan ini ramai dibahas di media, salah satunya dalam laporan Kompas.com. Namun, apakah klaim tersebut benar-benar didukung oleh bukti ilmiah?
Bukti Ilmiah di Balik Risiko Duduk Terlalu Lama
Beberapa studi epidemiologi menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari yang melibatkan duduk berjam-jam di kantor, di depan komputer, atau saat bersantai di rumah dapat berdampak negatif pada kesehatan kardiovaskular. Di antara temuan penting adalah peningkatan tekanan darah, kadar gula darah yang tidak stabil, serta peradangan pembuluh darah yang semuanya berkontribusi pada penyakit jantung dan stroke.
Faktor Risiko yang Diperburuk
Duduk terlalu lama juga dikaitkan dengan obesitas sentral (penumpukan lemak di perut), kadar kolesterol buruk (LDL) yang tinggi, dan menurunnya sensitivitas insulin. Faktor-faktor inilah yang kemudian memicu risiko serangan jantung dan stroke.
Tips Mencegah Risiko Meski Harus Banyak Duduk
Para ahli menyarankan untuk menyelingi waktu duduk dengan aktivitas fisik ringan setiap 30–60 menit. Bangunlah dari kursi, berjalan kaki sebentar, atau lakukan peregangan singkat. Selain itu, tetap rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu untuk menjaga kesehatan jantung.
Dengan demikian, tidak sepenuhnya mitos bahwa duduk 6–8 jam sehari bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Buatlah perubahan kecil dalam rutinitas harian untuk melindungi kesehatan kardiovaskular Anda.