
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengambil langkah strategis dengan memperkuat pendampingan bagi anak dan remaja yang hidup dengan HIV (ODHIV). Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap temuan data yang menyebutkan adanya 522 pelajar di wilayah tersebut yang terkonfirmasi positif HIV. Pihak Dinkes pun memberikan klarifikasi terkait angka tersebut.
Fokus pada Pendampingan yang Lebih Intensif
Kepala Dinkes Sidoarjo, dr. Fenny Apridawati, menyatakan bahwa pendampingan terhadap ODHIV, khususnya pada kelompok usia anak dan remaja, menjadi prioritas utama. Hal ini dikarenakan mereka memerlukan perhatian khusus, baik dari segi medis maupun psikososial. “Kami tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan dukungan mental dan sosial yang memadai,” ujarnya.
Program pendampingan ini melibatkan tenaga kesehatan, psikolog, serta kader kesehatan di tingkat desa dan kelurahan. Tujuannya adalah untuk memantau kepatuhan minum obat, mengatasi stigma, serta memberikan edukasi tentang pola hidup sehat. Dinkes juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk memastikan anak-anak ODHIV tetap bisa mengakses pendidikan tanpa diskriminasi.
Klarifikasi Data 522 Pelajar Positif HIV
Soal data 522 pelajar yang positif HIV, dr. Fenny menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi temuan dari beberapa tahun terakhir, bukan hanya dalam satu tahun. “Data itu adalah kumulatif sejak tahun 2010 hingga 2023. Jadi tidak semua terdeteksi dalam waktu bersamaan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dari total 522 pelajar tersebut, sebagian besar sudah mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) dan dalam kondisi sehat. Dinkes terus melakukan tracing dan testing secara berkala untuk mendeteksi kasus baru sedini mungkin. “Kami mengimbau masyarakat tidak panik. Yang terpenting adalah deteksi dini dan pengobatan yang tepat,” imbuhnya.
Upaya Pencegahan dan Edukasi Berkelanjutan
Selain pendampingan, Dinkes Sidoarjo juga gencar melakukan edukasi tentang HIV/AIDS di kalangan remaja. Sosialisasi dilakukan di sekolah-sekolah melalui program kesehatan reproduksi dan bahaya narkoba. “Kami ingin remaja memiliki pengetahuan yang benar tentang HIV, sehingga mereka bisa melindungi diri sendiri dan tidak menstigma teman-temannya yang terinfeksi,” kata dr. Fenny.
Dinkes berharap dengan penguatan pendampingan dan edukasi, angka penularan HIV di kalangan anak dan remaja bisa ditekan. Masyarakat pun diimbau untuk tidak ragu memeriksakan diri jika memiliki faktor risiko, karena semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk menjalani hidup sehat dengan HIV.