
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang terus memperkuat upaya penanggulangan HIV dengan melibatkan organisasi masyarakat sipil (OMS). Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan layanan dan edukasi kepada masyarakat, terutama kelompok berisiko tinggi.
Kepala Dinkes Palembang, dr. Fenty Aprina, menyatakan bahwa kolaborasi dengan OMS sangat penting dalam mempercepat deteksi dini dan pengobatan HIV. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. OMS memiliki akses dan kepercayaan dari komunitas yang sulit dijangkau oleh pemerintah,” ujarnya dalam sebuah pertemuan koordinasi, Jumat (10/11/2023).
Dalam pertemuan tersebut, Dinkes Palembang dan perwakilan OMS membahas strategi peningkatan tes HIV, penguatan pendampingan pasien, serta distribusi obat antiretroviral (ARV) secara merata. Fenty menambahkan, pihaknya menargetkan penurunan angka kasus baru HIV sebesar 30% pada tahun 2025 melalui sinergi ini.
Salah satu OMS yang hadir, LSM Lentera, mengapresiasi inisiatif Dinkes. “Selama ini kami bergerak sendiri. Dengan adanya dukungan resmi, program kami bisa lebih terstruktur dan berdampak luas,” kata koordinator lapangan LSM Lentera, Andi Saputra.
Data Dinkes Palembang mencatat, hingga Oktober 2023, terdapat 1.245 kasus HIV aktif di kota tersebut. Sebanyak 60% di antaranya telah menjalani terapi ARV. Namun, masih banyak penderita yang belum terdiagnosis atau putus pengobatan karena stigma dan keterbatasan akses.
Ke depan, Dinkes berencana membentuk forum komunikasi rutin dengan OMS, menyediakan pelatihan kader kesehatan, serta menggelar kampanye publik untuk mengurangi diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV). “Kami ingin semua pihak merasa aman untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan tanpa takut dihakimi,” tegas Fenty.
Langkah ini diharapkan mampu menekan laju penularan HIV di Palembang sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penderitanya.