
Angka deteksi dini kanker payudara di Indonesia masih sangat rendah, baru sekitar 16,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut, yang berdampak pada tingkat kesembuhan yang lebih rendah.
Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, upaya skrining dan edukasi mengenai pentingnya deteksi awal perlu ditingkatkan secara signifikan. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis oleh tenaga medis.
Rendahnya angka ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, dan stigma yang masih melekat. Padahal, jika ditemukan pada tahap awal, peluang kesembuhan kanker payudara bisa mencapai lebih dari 90 persen.
Pemerintah bersama berbagai organisasi kesehatan terus berupaya menggencarkan kampanye deteksi dini. Program seperti Bulan Peduli Kanker Payudara dan penyediaan layanan mamografi gratis di beberapa daerah diharapkan dapat meningkatkan angka partisipasi masyarakat.
Para ahli menekankan bahwa setiap wanita, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko, wajib melakukan pemeriksaan rutin. Dengan deteksi dini, bukan hanya nyawa yang bisa diselamatkan, tetapi juga kualitas hidup pasien dapat dipertahankan.